ruang waktu maspati

ruang waktu

SEMESTA HAMBAR

(CERPEN- UNTUK nio)

Pagi tanggal 15 januari 2006. mimpi-mimpi kita telah sampai di tepian setengahnya. Setengahnya lagi adalah kebodohan hati ini yang berpikir bahwa keinginanmu itu suci. Sebentar lagi kereta kita sampai pada dermaga terakhir perjumpaan ini. Harusnya kamu bahagia karena keinginan telah tersampaikan, namun kenapa tatapmu sebening dan sehening gunung es. Kenapa senyummu sehampa bunga kamboja, dan kamu tetap menyimpan rapat kehangatan sapamu.

Satu kembangku yang baru akan mekar susah sangat, layu. Tak sempat kupetik. Aku telah menyiramnya dengan bunga-bunga impian Kahlil Gibran, keresahan dan ketabuan Sigmund freud, Sebentar kemarin wanginya hanya untuk mereka.

+++++

Juli akhir. Jaket merahmu semerah rona pipi. Pikirku manis juga kalau dia keriting rambutnya. Sayang tak bisa ku membuktikan. Terlalu besar kain penutup rambutmu. Selalu warna putih beraksen kotak-kotak. Tanpa renda sedikitpun. Aku dipertemukan dengan tatapan matamu.

Selalu kumulai percakapan dengan dunia ini lewat mataku. Termasuk saat kujumpa kau lewat tatap mata centilmu. Beberapa kali sebelum akhirnya sempat terucap sepatah hai. Sebenarnya beberapa kali aku telah menatapmu dengan sangat ketika kuberkesempatan menyampaikan beberapa lembar cuplikan buku ideologi. Tetapi tentu tanpa ijinmu. Dan hal itulah yang sampai detik ini kusesali. Meskipun hanya pandangan aku terlalu lancang untuk mengambil sesuatu yang bukan hakku. Tentu saja hak untuk bisa mengagumi beberapa gurat biru wajahnya dan sedikit sibakan ujung rambut yang tidak sempat kau rapikan setiap jalan bergegas menuju ruang ruang kehiupan. Helai rambut itu masih belum bisa membuatku berkesimpulan. Andai rambutmu keriting mungkin kau lebih manis.

+++++

Juli akhir. Disebuah pelatihan yang kebetulan aku menjadi penyelenggaranya aku dipertemukan dengan tubuhmu. Bukan tipeku. Karena aku selalu berharap hanya dipertemukan dengan gadis berambut keriting, berkulit putih blasteran, sedikit centil. Dan itu jelas bukan kau. Sebab bahkan sampai kapanpun aku yakin aku tidak akan pernah tahu lurus atau keritingkah rambutmu yang setiap saat tertutupi oleh jilbab besar sampai dada. Apalagi kulitmu tidak putih-putih amat. Mungkin karena beberapa kali terbakar sinar matahari tatkala aksi. Kau bunga aksi tepi jalan. Aku temukan diantara hijau hitamnya kehidupan ini.

Pertemuan denganmu adalah perjamuan menyenangkan. Minimal karena aku ketemu salah satu teman yang bisa agak nyambung diajak bicara. Bagiku seorang pendengar yang baik dari setiap doktrin dan pikiranku adalah teman diskusi yang menyenangkan. Tentu saja seorang perfeksionis sepertiku sangat menyenangkan menemukan orang-orang seperti kamu. Inginnya setiap hal sesuai dengan isi kepalaku. Dan kau mampu memerankan peran itu dengan baik.

Untuk waktu yang panjang kita sempat jalan-jalan diantara tumpukan buku-buku peradaban. Berdansa lewat kesahduan Gazali, Aristotelian Ibnu Rasyid, atau terbang bersama mengitari jagad semesta Muhammad Iqbal. Seringkali pula bertengkar karena picu cucu-cicit Hasan Al Banna. Tapi aku tetap menemukan sesungging senyum di dagu datarmu. Kau lebih manis saat tidak mengatakan apa-apa. Sebab saat itulah aku bisa mengagumimu sekhitmadnya meskipun hanya dalam lubuk hati yang terdalam.

Nio, begitu saj aku memanggilmu, aku suka kamu. Tetapi tak kan pernah ingin aku ucapkan itu. Aku mengagumi kamu sama seperti kekagumanku pada beberapa sosok yang seperti dirimu. Cukup pintar, cukup bergairah untuk mendengarkan setiap isi pikiran yang kugelontorkan begitu saja. Meskipun kamu punya sedikit kekurangan karena sampai saat ini tak kuketahui kau itu keriting atau tidak. Sebenarnya beberapa kali sempat kau ku goda dengan bahasa-bahasa isyarat jebakan asmara. Aku yakin pasti kau juga tahu itu. Sayang lebih dari sebuah jebakan, kita telah terkungkung dalam semesta bahasa dan etika yang tidak mampu kita lampaui. Kita tidak bisa membuka ruang dan waktu yang disebut paradigma. Tentu masih ingat kau pada janji-janji babtis pedang dan Qur’an saat pertama kali menginjakkan di kota ini. harusnya aku dipertemukan dengan kamu beberapa jam sebelumnya. Sebelum kau sempat mengucap janji bakti bai’at itu. Sehingga tak cukup waktu belenggu dan kuasa semesta itu mengungkung kita.

Aku yakin pasti kamu merasakan sama. Seperti juga saat setiap tengah malam kau sempat menghubungiku sekedar ucap hai.

Beberapa kali kau kirimi aku coklat. Aku bertaruh itu adalah jatah beberapa hari uang makan kamu. Aku sempat membalas perlakuan baikmu dengan beberapa jam lamanya berbincang tentang Gustav Jung lewat telepon. Sekedar mencari alasan agar bisa mendengar suara kamu. Apalagi dari hari kehari aku semakin disibukkan oleh semesta rencana yang aku tahu pasti bukan kuasaku.

Nio aku tak ingin menyibak banyak kata dari cerita ini. biar menjadi hambar dan janggal. Dan hanya sampai disini tabir ini. sebab akhirnya aku tahu kau memang keriting saat kulihat setiap hlai rambut kamu yang terjurai bersama hiasan kamboja dan merah syahidmu di tepi kenangan. Aku tahu pasti kau telah lelap dalam semesta surga.

 

April 6, 2007 - Ditulis oleh maspati | Uncategorized | | & Komentar

& Komentar »

  1. ehm…kalo tidak salah ini bercerita tentang cinta yang terpendam..yang akhirnya terpisahkan oleh ruang, waktu serta dunia ya..sungguh menyedihkan..:((

    Komentar oleh shida | Mei 14, 2007 | Balas

  2. ……………………………………………………………………………….

    Komentar oleh maspati | Mei 29, 2007 | Balas


Tinggalkan komentar